JAKARTA (WMI) — New Priok Container
Terminal One (NPCT1), perusahaan patungan antara Pelindo Group dan mitra global
di bawah naungan SEA Terminal Management & Service (STMS) Pte. Ltd.,
mengumumkan sejumlah pencapaian dalam memperkuat perannya sebagai terminal peti
kemas terdepan di Indonesia.
NPCT1 menutup tahun 2025 dengan momentum positif,
ditandai dengan tercapainya sejumlah tonggak kinerja operasional utama.
Tercatat pada Agustus 2025, NPCT1 berhasil menggapai total
akumulasi penanganan 10 juta TEUs sejak beroperasi pada tahun 2016. Sedangkan
di sepanjang tahun 2025, total 1,39 juta TEUs berhasil ditangani per November
2025, yang menempatkan NPCT1 pada jalur yang tepat untuk mencatatkan kinerja
akhir tahun yang solid sekaligus memperkuat posisinya dalam jaringan logistik
regional dan global.
“Pencapaian lebih dari 10 juta TEUs sejak 2016 serta
konsistensi menuju kinerja akhir tahun yang kuat mencerminkan kepercayaan dan
kemitraan yang telah kami bangun bersama para customer,” kata Direktur NPCT1,
Kiki Mohammad Hikmat, di Jakarta, Selasa (30/12).
Menurutnya, capaian ini merupakan hasil dari dedikasi
kolektif semua pihak terhadap keunggulan operasional, keselamatan,
keberlanjutan, serta inovasi. NPCT1 terus berkomitmen untuk menghadirkan
layanan terminal peti kemas berkualitas tinggi untuk mendukung kelancaran
aktivitas logistik Indonesia.
“Kami percaya masa depan industri maritim Indonesia
menyimpan peluang besar, dan NPCT1 akan terus berperan dalam mendukung
pertumbuhan tersebut,” tegas Kiki.
Dengan total 16 layanan mingguan serta kemitraan bersama
perusahaan pelayaran global terkemuka—di antaranya Maersk, Evergreen, MSC, HMM,
SITC, Hapag-Lloyd, TS Lines, Namsung, Wan Hai Lines, dan Yang Ming—NPCT1 terus
menjadi terminal pilihan bagi operator pelayaran global maupun beneficial cargo
owners (BCO) dari berbagai sektor industri, termasuk manufaktur, otomotif,
barang konsumsi, pertanian, dan sektor lainnya.
Tiga Peningkatan Utama
Dikatakan juga, kinerja operasional sepanjang 2025 didukung
tiga peningkatan utama di dalam terminal. Pertama, NPCT1 memperkuat kualitas
layanan melalui pengadaan satu quay crane (QC) baru, lima unit rubber-tired
gantry (RTG) crane tambahan, serta tujuh prime mover (PM), yang secara
signifikan mendukung kelancaran operasional kapal dan yard.
Kedua, implementasi Terminal Booking System (TBS) pada
Agustus 2025 menjadi langkah penting berikutnya, yang meningkatkan kelancaran
arus truk, mengurangi kepadatan, serta menyempurnakan proses penerimaan dan pengiriman
peti kemas bagi truk eksternal.
Ketiga, operasional yard turut dioptimalkan melalui
penyempurnaan distribusi klaster, peningkatan prioritas bay day, serta
pemantauan berkelanjutan guna memastikan penanganan ekspor dan impor yang tepat
waktu dan efisien. Berbagai peningkatan ini membantu NPCT1 menjaga tingkat yard
occupancy yang optimal di kisaran 60%, serta berkontribusi pada pertumbuhan
volume sebesar 17% dibandingkan tahun 2024.
Transformasi Digital
Di luar kinerja operasional, pengembangan NPCT1 bertumpu
pada pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek sumber daya manusia,
keselamatan, digitalisasi, dan keberlanjutan. Pengembangan SDM dipandang
sebagai proses berkelanjutan yang berorientasi pada manusia, guna mendukung
keunggulan operasional sekaligus pertumbuhan individu melalui pembelajaran
berkesinambungan, peningkatan keterampilan, dan keterlibatan yang bermakna.
Dari sisi keselamatan, inspeksi keselamatan rutin,
pemantauan kesehatan pekerja, pengendalian lingkungan, serta pengawasan barang
berbahaya dilakukan secara konsisten untuk memastikan standar tertinggi dalam
aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan di seluruh
aktivitas terminal.
Transformasi digital juga telah menjadi penggerak utama
kinerja NPCT1 selama hampir satu dekade. Peralihan dari sistem penagihan
konvensional ke transaksi daring sepenuhnya melalui platform ECON telah
menyederhanakan interaksi dengan para customer, mengurangi penggunaan kertas,
serta meningkatkan transparansi.
Berbagai pengembangan teknologi berkelanjutan—termasuk
pembaruan Global Terminal Operating System (GTOS), kolaborasi dengan platform
trucking, pengenalan ECON+, serta penerapan lapisan sistem pertahanan siber
pada lalu lintas Inbound dan Outbound, semakin memperkuat visibilitas
operasional dan menyederhanakan alur kerja para customer demi efisiensi dan
keandalan yang lebih tinggi.
NPCT1 juga berada pada jalur yang tepat untuk mengurangi
jejak karbon hingga 50% pada tahun 2030. Salah satu langkah paling signifikan
adalah adopsi energi terbarukan, di mana NPCT1 menjadi terminal peti kemas
pertama di Indonesia yang memasang panel surya, dengan sistem yang saat ini
mampu menyuplai sekitar 50% kebutuhan listrik gedung utama.
“Elektrifikasi menjadi pilar penting dalam perjalanan
keberlanjutan NPCT1,” jelas Kiki.
Armada RTG kini beroperasi menggunakan sistem listrik dan
hybrid, yang secara signifikan menekan emisi dari aktivitas yard. Secara
paralel, seluruh kendaraan prime mover NPCT1 telah beralih dari bahan bakar B20
ke B40. Untuk mengurangi emisi dari kapal saat sandar, NPCT1 telah
mengimplementasikan fasilitas cold ironing yang memungkinkan kapal terhubung
langsung ke pasokan listrik darat, sehingga mesin kapal dapat dimatikan selama
berada di dermaga.
“Seluruh upaya ini ditopang dengan sertifikasi ISO
14001:2015, yang memastikan pengelolaan lingkungan terintegrasi dalam
operasional harian melalui kerangka kerja yang terstruktur dan diakui secara
internasional,” tambahnya.
Ke depan, lanjut Kiki, NPCT1 akan terus memperkuat peta
jalan keberlanjutannya melalui peningkatan efisiensi energi, termasuk perluasan
kapasitas panel surya. Elektrifikasi juga akan diperluas ke berbagai peralatan
dan kendaraan terminal. NPCT1 menargetkan armada RTG beroperasi dengan tenaga
listrik, seiring dengan pengadaan tujuh unit prime mover elektrik (e-PM).
“Dengan luas terminal mencapai 32 hektare, didukung
sembilan quay crane, 29 RTG, 51 prime mover, tiga dermaga dengan total panjang
850 meter, kapasitas penanganan harian hingga 6.000 TEUs, serta fasilitas
reefer dengan 990 reefer plug, NPCT1 terus menghadirkan layanan terminal peti
kemas standar global melalui kemitraan yang kuat, inovasi berkelanjutan, serta
fokus pada keunggulan kinerja, kepuasan para customer, keselamatan, dan
keberlanjutan lingkungan di tahun 2026,” pungkas Kiki M Hikmat.
(Andi Roesman Rola).





.jpg)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar