Kotawaringin
Timur (WMI.Com) - Kondisi udara di Kabupaten
Kotawaringin Timur, khususnya Kota Sampit, kian mengkhawatirkan akibat kepungan
kabut asap Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Merespons eskalasi tersebut,
PT Pelindo Terminal Petikemas melalui Terminal Peti Kemas (TPK) Bagendang
mengambil langkah taktis dengan mendistribusikan ratusan masker pelindung
secara langsung kepada pekerja operasional pelabuhan, pengguna jasa, serta
masyarakat sekitar pada Minggu, 9 Agustus 2026.
Berdasarkan
pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin
Timur, akumulasi hotspot atau titik panas telah menembus 204 titik hanya dalam
24 jam terakhir. Dampaknya sangat signifikan: Indeks Kualitas Udara (AQI) untuk
polutan PM2.5 di Sampit kini berada pada kategori "Tidak Sehat", dan
jarak pandang (visibility) pada pagi hari anjlok hingga menyisakan jarak
300-400 meter.
Menghadapi situasi
darurat ini, Akhmad Fajar, Terminal Head TPK Bagendang Bumiharjo,
menginstruksikan jajarannya untuk segera turun ke lapangan.
"Kondisi udara
dalam beberapa hari terakhir menuntut kita untuk bergerak cepat. Keselamatan
dan kesehatan pekerja, serta masyarakat di ring satu pelabuhan, adalah hal yang
tidak bisa ditunda. Distribusi masker ini adalah langkah perlindungan pertama
yang langsung kami eksekusi agar risiko gangguan ISPA (Infeksi Saluran
Pernapasan Akut) dapat ditekan," tegas Fajar.
Meskipun aktivitas
kepelabuhanan tetap berjalan untuk menjaga rantai logistik, Akhmad menekankan
bahwa prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kini diterapkan jauh lebih
ketat. Seluruh personel di area terbuka diwajibkan menggunakan masker pelindung
setiap saat.
Di sisi lain,
ancaman kabut asap juga berdampak pada keselamatan navigasi perairan. Mengacu
pada Maklumat Pelayaran (Notice to Mariners) yang diterbitkan oleh
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Sampit, Pelindo
turut menginstruksikan seluruh nakhoda dan mitra pengguna jasa laut untuk
meningkatkan kewaspadaan maksimal saat berolah gerak di Alur Sungai Mentaya,
Katingan, hingga Sebangau.
“Operasional
pelabuhan dan keselamatan maritim harus berjalan beriringan dengan kesehatan
manusia. Kabut asap boleh membatasi jarak pandang, namun kepedulian dan
kewaspadaan kita tidak boleh berkurang. Kami akan terus memantau situasi dan
berkoordinasi dengan instansi berwenang untuk memastikan semuanya terkendali,”
tutup Fajar.
***







.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar