Makassar (WMI) – PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) melaksanakan
Program SAIL (Speak, Assess, Integrate, Learn) Batch II di Balikpapan,
Samarinda, dan Bontang pada 14–16 Oktober 2026. Program ini bertujuan
memperkuat komunikasi antara manajemen dan pekerja, mengidentifikasi kendala
operasional, serta mendorong penyelesaian masalah melalui kerja sama lintas
fungsi.
Kegiatan yang berlangsung di
Area Kalimantan 1 dan Area Kalimantan 2, Wilayah 4 PJM, ini merupakan bagian
dari program internalisasi budaya perusahaan Break The Silo (BTS).
Melalui program tersebut, PJM mendorong keterbukaan komunikasi, peningkatan
kualitas pelayanan, penguatan budaya keselamatan kerja, serta terciptanya
lingkungan kerja yang saling menghargai.
Direktur Keuangan, SDM dan
Manajemen Risiko PJM, Aris Subagyo, mengatakan bahwa SAIL menjadi sarana bagi
manajemen untuk memahami langsung kondisi operasional sekaligus mendengarkan
masukan dari pekerja di lapangan.
“Melalui SAIL, manajemen
dapat berdialog langsung dengan pekerja untuk mengetahui kendala yang mereka
hadapi. Masukan tersebut menjadi dasar dalam merumuskan langkah perbaikan yang
melibatkan berbagai fungsi di perusahaan,” ujar Aris.
Program SAIL Batch II
melibatkan Manajemen Kantor Pusat, Manajemen Wilayah, serta pekerja dari
berbagai fungsi operasional, mulai dari perwira pandu, anak buah kapal (ABK),
operator radio, planner, hingga pekerja administrasi.
Kegiatan diawali dengan Management
Walkthrough (MWT), yakni kunjungan manajemen ke sejumlah fasilitas
operasional, antara lain pilot station, kapal tunda, serta ruang Planning
and Control (PnC). Peninjauan ini dilakukan untuk melihat kondisi kerja,
penerapan prosedur keselamatan, kualitas pelayanan, dan potensi kendala dalam
kegiatan operasional.
Hasil peninjauan kemudian
dibahas bersama pekerja melalui sesi diskusi dan penyampaian aspirasi. Dalam
forum tersebut, pekerja dapat menyampaikan kendala, kebutuhan operasional,
serta usulan perbaikan secara langsung kepada manajemen.
Sejumlah isu yang dibahas
meliputi kebutuhan tambahan tenaga pandu di beberapa unit, peningkatan
kompetensi pekerja, pengembangan jenjang karier perwira pandu, serta peremajaan
fasilitas pendukung pelayanan pemanduan.
Selain itu, aspek keselamatan
dan kesehatan kerja turut menjadi perhatian, khususnya terkait pengaturan pola
jaga dan risiko kelelahan (fatigue) pekerja operasional. Pembahasan juga
mencakup penerapan Standard Operating Procedure (SOP), Work
Instruction (WI), serta sosialisasi aplikasi RTG (Ready To Go) untuk
mendukung peningkatan kesadaran keselamatan kerja.
Melalui sesi Insight
Session from Board of Directors, manajemen juga memberikan arahan terkait
pengelolaan sumber daya manusia, termasuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja,
pengembangan kompetensi, pola karier, dan dukungan fasilitas kerja.
Program SAIL dilaksanakan
melalui tiga tahapan utama, yaitu Operational Assessment, Speaker
(Suara Pekerja), dan Marine Collab Squad.
Tahap Operational
Assessment dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi dan permasalahan
operasional di lapangan. Selanjutnya, melalui Speaker, pekerja dan
manajemen berdiskusi untuk menyampaikan masukan serta merumuskan alternatif
solusi. Adapun Marine Collab Squad diarahkan untuk membentuk kerja sama
lintas fungsi dalam menindaklanjuti hasil temuan dan menyusun langkah
perbaikan.
Aris menjelaskan bahwa tindak
lanjut hasil kegiatan menjadi bagian penting dari pelaksanaan SAIL. Setiap
persoalan yang ditemukan perlu dikoordinasikan dengan fungsi terkait agar
penyelesaiannya tidak terhambat oleh batas kewenangan antarunit.
“SAIL bukan hanya forum untuk
menyampaikan aspirasi. Kami ingin setiap masukan dapat ditelaah dan
ditindaklanjuti secara terukur, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh pekerja
dan berdampak pada peningkatan kualitas layanan operasional,” jelasnya.
Pelaksanaan program ini juga
mendukung arah transformasi perusahaan yang sejalan dengan semangat penguatan
tata kelola, kualitas sumber daya manusia, dan efisiensi operasional yang
didorong oleh Danantara Indonesia.
Melalui SAIL Batch II, PJM
terus memperkuat budaya kerja One PJM – One Pelindo dengan mendorong
kolaborasi antara kantor pusat, wilayah, dan unit operasional. Langkah ini
diharapkan dapat mempercepat penyelesaian kendala di lapangan, meningkatkan
keselamatan kerja, serta mendukung pelayanan jasa kepelabuhanan yang lebih aman
dan andal.
(Red. WMI.Com).








.jpg)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar