Satu Tahun Merger PT Pelindo (Persero) Terus Berkomitmen Menurunkan Biaya Logistik Nasional - WARTA MARITIM INDONESIA I MEDIA INFORMASI KEMARITIMAN

Breaking

SPTP

 


SPJM


PT Akses Pelabuhan Indonesia


SPMT




Post Top Ad

Responsive Ads Here

Senin, 19 September 2022

Satu Tahun Merger PT Pelindo (Persero) Terus Berkomitmen Menurunkan Biaya Logistik Nasional

 



JAKARTA, wartamaritimindonesia.com –
Seperti diketahui bersama, bahwa salah satu tujuan dari merger Pelindo pada 1 Oktober 2021 lalu yakni merger PT Pelindo 1, PT Pelindo 2, PT Pelindo 3 dan PT pelindo 4, adalah mendorong terjadinya penurunan biaya logistik nasional dari sektor layanan kepelabuhanan yang dikelola PT Pelindo (Persero).


Upaya mewujudkan komitmen tersebut, manajemen Pelindo pasca merger mentargetkan adanya efisiensi layanan, melalui peningkatan konektifitas dan standardisasi layanan pelabuhan  pada seluruh cabang Pelindo.


Demikian juga terhadap 4 (empat) subholding Pelindo, yakni PT Pelindo Solusi Logistik, PT Pelindo Terminal petikemas,  PT Pelindo Multi Terminal dan PT Pelindo Jasa Maritim, juga diterapkan standarisasi layanan.    


Bagaimana realisasi komitmen Pelindo untuk mendorong penurunan biaya logistik nasional, salah satunya pernah dinyatakan pada acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Gabungan Pengusaha Eksportir Seluruh Indonesia (GPEI) pada 25 Agustus 2022 belum lama ini.



Waktu itu, dinyatakan oleh Koko Susanto, Direktur Komersial & Teknik PT Pelindo Solusi Logistik, dimana pada kesempatan tersebut selaku mewakili Arif Suhartono selaku Direktur Utama PT Pelindo (Persero).


“Bahwa terhadap hasil studi World Bank mengenai tariff jasa kepelabuhanan di Indonesia, komponen biaya pelabuhan (yang berasal dari tarif) hanya menyumbang 4 % dari total biaya logistik. Dan komponen terbesar penyumbang biaya logistik ada pada komponen inventory dan hinterland transport sebesar 59 % di Indonesia,” Ungkap Koko Susanto.



Lalu bagaimana pendapat dari pemerhati logistik nasional, terkait pernyataan Pelindo tersebut.  Salah satu pendapat dikemukakan oleh Setijadi Ketua Umum Supply Chain Indonesia (SCI) yang berkantor di Bandung Jawa Barat.


Saat dikomfirmasi oleh Redaksi Warta Maritim Indonesia, Setijadi mengatakan bahwa biaya logistik itu dibagi menjadi dua pertama biaya transportasi dan yang kedua  biaya pergudangan. Distribusinya, biaya tranportasi itu sampai sekitar 70 persen dan biaya pergudangan 30 persen.


“Yang kedua terkait biaya transportasi, kita biasanya menghitung biaya dari ‘N To N’ (dari titik awal sampai titik akhir) dari pabrik yang kirim barang (shipper) mengirim barang ke pengirim (consigne). Kalau kita bicara transportasi secara umum, maka bisa dibagi menjadi tiga bagian, pertama biaya transportasi hinterland (di daratnya) itu 50 persen, kemudian biaya di Pelabuhan, pelabuhan asal dan pelabuhan tujuan itu 31 persen,” Ujar Setijadi yang dikomfirmasi melalui telepon gemgamnya, Senin 19 September 2022.


Data tersebut kata Setijadi, mengacu pada data dari Pelni dan INSA. “Jadi kalau kita menggabungkan dua data itu, kalau kita kalikan maka biaya pelabuhan itu sekitar 22 persen. Adapun ada angka 4 persen pelabuhan menyumbang biaya logistik nasional ini, ruang lingkup dan metode perhitungannya mungkin berbeda. Tapi itu gak masalah sih. Yang pasti yang bisa kita analisis dan kita simpulkan, bahwa porsi terbesar dari biaya transportasi adalah biaya di hinterlandnya atau biaya angkutan (trucking),” Ujar Setijadi.


Dijelaskan, salah satu kendala di hinterland, adalah di muatan balik (Muata kosong). “Dimana kita sering komunikasi dengan teman-teman trucking pada muatan baliknya ‘kosong’, sehingga perusahaan trucking menugaskan kepada supir trucking untuk cari muatan baliknya. Misalnya dari Jakarta ke Surabaya bawa muatan tapi baliknya dari Surabaya ke Jakarta kosong. Dari situ yang bisa kita lakukan adalah kita mengembangkan system informasi, untuk mengintegrasikan antara kebutuhan pengiriman dengan kapasitas pengiriman. Tujuan pengiriman ini adalah volume barang yang akan dikirimkan oleh para pemilik barang, terutama tujuan manufaktur. Kapasitas pengiriman adalah kapasitas angkut dari perusahaan - perusahaan transportasi. Ketika kita sudah mengintegrasikan ini, diharapkan masalah muatan balik kosong ini bisa diminimalkan,” Jelas Setijadi.

 

Efisiensi Pelabuhan di bawah Pelindo  

Bagaimana untuk terjadinya efisiensi logistik di pelabuhan ? Menurut Setijadi, ada tiga hal, pertama tekhnologi yang terkait dengan infrastruktur dan fasilitas yang dimiliki pelabuhan atau fasilitas fisiknya, misalnya panjang dermaganya dan kedalaman kolam pelabuhannya. Kemudian Fasilitas bongkar muat seperti crane dan seterusnya.


“Yang kedua, diproses yakni di systemnya, artinya proses dari kapal itu datang, proses bongkar muat sampai barang keluar dari pelabuhan. Atau sebaliknya barang yang dimuat trucking  datang ke pelabuhan masuk lapangan penumpukan, naik kapal dan seterusnya ini yang harus diperbaiki. Yang ketiga di kompetensi SDM-nya, artinya perlu kemampuan untuk mengelola fasiltas tadi, perlu kemampuan untuk menjalankan proses-proses yang sudah distandarisasikan. Jadi ketiga hal ini dilakukan, ini akan berdampak pada peningkatan service level dari pelabuhan,” Ungkap Setijadi.


 


Pelindo Harus Jelaskan Ke Publik

Sementara menurut Fahira Indris, Anggota DPD RI, terkait satu tahun merge Pelindo, pada 1 Oktober 2022 besok, jangka waktu satu tahun masih terlalu singkat untuk menguji efektifitas, dampak positif atau tujuan dan target merger empat BUMN pelabuhan menjadi satu Pelindo.


“Namun, saya berharap, tepat nanti satu tahun merger ini yaitu 1 Oktober 2022, Pelindo menggelar public expose capaian-capaian apa saja atau dampak positif apa saja yang terjadi di Pelindo setelah setahun merger termasuk tantangan yang dihadapi serta target-target ke depan seperti apa,” Ujar Fahira Hidris yang dikonfirmasi Redaksi Warta Maritim Indonesia, melalui telepon genggamnya.


Dikatakan, kalau mau kilas balik, latar belakang dilakukan merger ini salah satunya untuk peningkatan skala usaha perusahaan, terbentuknya ekosistem logistik nasional, dan penyeragaman standarisasi pelayanan.

“Yang menjadi titik krusial bagi saya adalah ekosistem logistik nasional yang jika saya artikan adalah dengan merger ini maka biaya logistik nasional kita bisa turun atau setidaknya terjadi peningkatan efisiensi biaya logistik pelabuhan dan kelautan dan biaya inventori. Apakah selama setahun ini sudah terlihat tanda-tanda akan terjadi penurunan biaya logistik? Itu harus dijelaskan oleh Pelindo kepada public,” Ungkap Fahira Indris.


Selain itu, tambahnya, hal penting yang juga harus dipaparkan Pelindo setelah setahun merger ini adalah kelincahan Pelindo setelah dimerger.


“Sudah jadi pengetahuan umum bahwa semakin besar sebuah organisasi, semakin kurang lincah untuk melakukan adaptasi. Sejauh mana perbedaan budaya, regulasi, dan teknologi di masing-masing Pelindo bisa beradaptasi sehingga melahirkan ekosistem kerja yang lebih produktif,” Tutup Fahira Indris.


 (Yadhi Satria/Redaksi WMI Jakarta).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Top Ad